Home » Pemerintahan » PDRB

ANALISIS DESKRIPTIF PDRB JOMBANG RENTANG 2013-2017


Perencanaan pembangunan ekonomi suatu negara atau daerah memerlukan bermacam-macam data statistik untuk dasar penentuan strategi dan kebijakan, agar sasaran pembangunan dapat dicapai dengan tepat. Strategi dan kebijakan pembangunan ekonomi yang telah diambil di masa lalu perlu dikaji dan dilihat hasilnya. Berbagai data statistik yang merupakan ukuran kuantitas mutlak diperlukan untuk memberikan gambaran tentang keadaan pada masa yang lalu dan masa kini, serta sasaran-sasaran yang akan dicapai pada masa yang akan datang.
 
Pada hakekatnya, pembangunan ekonomi adalah serangkaian usaha kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masayarakat, meningkatkan hubungan ekonomi regional dan mengusahakan pergeseran kegiatan ekonomi dari Kategori primer ke sekunder dan tersier. Arah pembangunan ekonomi adalah mengusahakan agar pendapatan masyarakat naik secara mantap, dan dengan tingkat pemerataan sebaik mungkin.
 
Untuk mengetahui tingkat dan pertumbuhan pendapatan masyarakat, perlu disajikan statistik pendapatan nasional/regional secara berkala, yang digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan nasional maupun regional khususnya di bidang ekonomi. Angka-angka pendapatan nasional/regional dapat dipakai juga sebagai bahan evaluasi hasil pembangunan ekonomi yang telah dilaksanakan oleh berbagai pihak, baik pemerintah pusat/ daerah maupun swasta.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah salah satu bentuk penyajian data yang bisa menggambarkan struktur perekonomian daerah pada tahun yang bersangkutan. Struktur ekonomi mencerminkan potensi ekonomi suatu wilayah/daerah. Keberpihakan pada potensi daerah akan melahirkan pembangunan yang efektif yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dalam buku publikasi PDRB disajikan gambaran tentang makro perekonomian Kabupaten Jombang tahun 2017 yang meliputi, PDRB Kategorial, laju implisit, pertumbuhan ekonomi, posisi pinjaman, posisi kredit dan realisasi PMDN/PMA.
 
  1. Produk Domestik Regional Bruto
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku (adhb) merupakan gambaran tentang perkembangan produksi barang dan jasa secara nominal dan dipengaruhi oleh perkembangan atau perubahan harga. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Jombang adhb tahun 2017 sebesar 34.940.027,4juta rupiah, meningkat 9,2 persen dibandingkan tahun 2016. Kenaikan tersebut lebih rendah 0,5 poin dari tahun 2016. Dari ketiga Kategori unggulan, ternyata Kategori Perdagangan yang mengalami peningkatan nilai PDRB terbesar.

Nilai PDRB Kategori Perdagangan ini bahkan lebih tinggi dari nilai PDRB total, yakni bertambah lebih dari 12 persen. Ini berarti Kategori Perdagangan telah memberikan kontribusi yang cukup besar. Dua Kategori unggulan lainnya masing-masing juga bertambah, yakni Kategori Pertanian bertambah 3,2 persen dan Kategori Industri bertambah 10,8 persen. Dari sudut adhb, pertambahan ini berasal dari kuantitas dan harga. Manakah yang kuat pertambahannya antara kuantitas dan harga? Pertanyaan tersebut akan terjawab bila kita membandingkan laju pertumbuhan dengan laju implisitnya.

Laju pertumbuhan mencerminkan bertambahnya kuantitas barang/jasa yang dihasilkan, sedangkan laju implisit mencerminkan bertambahnya/meningkatnya harga suatu barang/jasa yang dihasilkan. Laju pertumbuhan didapat dengan membandingkan PDRB adhk tahun ini dengan tahun sebelumnya. PDRB adhk sering disebut dengan PDRB riil.

Tabel 1. Produk Domestik Regional Bruto Tahun 2013 - 2017 ADHB (Juta Rupiah)

Lapangan Usaha

2013 2014 2015 2016 2017 *)
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Pertanian 5.306.074 5.912.781 6.470.006 6.807.544 7.023.157
Industri 4.784.498 5.260.989 5.779.276 6.283.830 6.959.407
Perdagangan 5.267.233 5.755.278 6.432.193 7.297.716 8.196.743
Lainnya 8.471.996 9.410.024 10.466.493 11.594.027 12.760.720

Jumlah

23.829.801,4 26.339.071,0 29.147.967,9 31.983.116,4 34.940.027,4
Sumber:    PDRB Kabupaten Jombang, BPS
                   *) Angka Sementara

Grafik 1. PDRB Unggulan Kabupaten Jombang ADHB Tahun 2013 – 2017 (Triliun Rp.)

Sumber: PDRB Kabupaten Jombang, BPS

Bila kita  perhatikan  tiga  tahun  terakhir (2015 - 2017), maka kita akan mengetahui bahwa Kategori Perdagangan selalu menjadi yang tertinggi peningkatannya, diikuti Kategori Industri dan Pertanian. Tahun 2015 Kategori Perdagangan mengalami peningkatan nilai PDRB sebesar 11,8 persen. Kategori Industri mengalami peningkatan nilai PDRB sebesar 9,8 persen. Dan ternyata, hingga tahun 2017 peningkatan Kategori Perdagangan lebih tinggi dari pada nilai PDRB totalnya. Tahun 2015 nilai total PDRB bertambah 10,7 persen, sedangkan tahun 2017 bertambah 9,2 persen. Peningkatan Kategori Perdagangan dipicu meningkatnya jumlah pedagang dan kenaikan harga.

Tabel 2. Produk Domestik Regional Bruto Tahun 2013 - 2017 ADHK (Juta Rupiah)

Lapangan Usaha

2013 2014 2015 2016 2017 *)
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Pertanian 4.155.334 4.240.622 4.326.430 4.400.917 4.430.051
Industri 4.264.843 4.498.251 4.735.426 4.984.785 5.285.471
Perdagangan 4.752.122 5.091.331 5.444.226 5.825.038 6.249.176
Lainnya 7.500.006 7.962.988 8.454.165 8.988.332 9.532.304

Jumlah

20.672.304,5 21.793.190,8 22.960.246,9 24.199.071,8 25.497.001,5

Sumber:    PDRB Kabupaten Jombang, BPS
                   *) Angka Sementara
Grafik 2. PDRB Unggulan Kabupaten Jombang ADHK Tahun 2013 – 2017 (Triliun Rp.)

Sumber: PDRB Kabupaten Jombang, BPS

PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) menggambarkan pertumbuhan riil perekonomian daerah yang terbebas atau tidak dipengaruhi tingkat kenaikan harga karena menggunakan tahun 2010 sebagai patokan harganya. PDRB Kabupaten Jombang ADHK tahun 2017 sebesar  25.497.001,5 juta Rupiah. Jika dibandingkan tahun 2016 yang sebesar 24.199.071,8 juta Rupiah, maka di tahun 2017 mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 5,36 persen. Laju pertumbuhan tahun 2017 tersebut sedikit melambat sebesar 0,04 persen.

Perlambatan ini menjadi fenomena unik karena di level propinsi dan nasional tidak demikian. Stelah ditelusuri, ternyata perlambatan tahun ini dominan disebabkan karena melambatnya Kategori Pertanian yang cukup dalam, khususnya sub Kategori Tabama yang tumbuh minus. Dari beberapa pengamatan beberapa kabupaten sentra pertanian, mayoritas mengalami hal serupa dengan Kabupaten Jombang. Dari tiga kategori utama (Pertanian, Perdagangan dan Industri) di Kabupaten Jombang, memang hanya kategori Pertanian yang melemah. Namun, karena share kategori Pertanian yang masih terbesar kedua, maka wajar tahun ini perlambatan ekonomi.

Sama halnya dengan ADHB, dari ketiga kategori unggulan, ternyata kategori Perdagangan yang mengalami pertumbuhan tertinggi. Pertumbuhan kategori Perdagangan ini juga lebih tinggi dari pertumbuhan total, yakni tumbuh 6,05 persen. Jadi, walaupun mengalami sedikit perlambatan, Perdagangan masih dapat memberikan andil bagi perekonomian Kabupaten Jombang.

Jumlah institusi kategori Perdagangan juga bertambah. Menurut Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), pada tahun 2017 jumlah SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan) bertambah 49 menjadi 1096 usaha. Dari data PDRB dan Dinas PMPTSP terlihat koherensi data yang salingn menguatkan. Dan dari gambaran ADHB dan ADHK, jelas bahwa kategori Perdagangan sangat potensial dan pantas untuk dikembangkan, utamanya skala Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Dua Kategori unggulan lainnya juga memiliki potensi untuk dikembangkan, khususnya kategori Industri. Sedangkan kategori Pertanian membutuhkan upaya ekstra untuk menjadikan kategori unggulan. Kategori Industri dan Pertanian masing-masing tumbuh sebesar, 6,03 persen dan 0,66 persen.

Bila melihat data pertumbuhan lima tahun terakhir (2013 - 2017), kita disuguhi fenomena menarik, yakni antara kategori Industri dan Perdagangan. Dimana kategori Perdagangan begitu perkasa pertumbuhannya, tidak terkejar oleh kategori Industi. Namun demikian, laju pertumbuhan kategori Industri selaras dan searah dengan kategori Perdagangan, bila melambat ikut melambat dan meningkat juga ikut meningkat (lihat tabel 4 halaman 43).

Dari ketiga kategori unggulan, terlihat bahwa kategori Pertanian membutuhkan perhatian ekstra dan intensif. Hal ini terlihat adanya tren dalam kurun lima tahun terakhir. Padahal produk pertanian (Tabama) merupakan produk primer bagi masyarakat dan kabupaten Jombang merupakan salah satu sentra pertanian di Jawa Timur.

2. Pertumbuhan Kategorial
Pertumbuhan ekonomi kategorial atau disingkat pertumbuhan kategorial, akan memperlihatkan potensi sekaligus akselerasi kategorial. Potensi kategorial akan memberikan gambaran tentang barang dan jasa yang mungkin mudah dikembangkan. Sedangkan akselerasi kategorial menggambarkan kecepatan produksi barang dan jasa.

Secara umum total pertumbuhan ekonomi Kabupaten Jombang tahun 2017 sedikit melambat jika dibanding tahun sebelumnya, yakni dari sebesar 5,40 menjadi 5,36 persen, atau berkurang 0,04 point. Puncak geliat ekonomi Kabupaten Jombang terjadi pada tahun 2012, karena pertumbuhan ekonominya mencapai lebih dari 6 persen. Namun, sejak tahun 2013 hingga 2017 cenderung terjadi perlambatan.

Akan tetapi bila melihat daerah sekitar, regional dan nasional, maka hal ini menjadi biasa saja. Ini berarti ada hubungan tak langsung antar daerah, daerah dengan regional atau daerah dengan nasional.

Dimana, masing-masing daerah saling mempengaruhi. Karena memang suatu daerah tidak mungkin bisa mencukupi kebutuhannya sendiri. Ini juga mengindikasikan adanya ekspor–impor antarwilayah, baik ekspor–impor produk barang/jasa maupun ekspor–impor faktor produksi. Adanya ekspor–impor sebenarnya dapat dijelaskan dalam PDRB dengan pendekatan pengeluaran. Akan tetapi, karena kesulitan dan keterbatasan data, PDRB Pengeluaran kesulitan menerangkan wilayah mana saja yang melakukan ekspor dan impor.

Pertumbuhan ekonomi memang menjadi indikasi awal bahwa roda perekonomian bergerak. Dan ketika tahun 2016 menjadi titik balik menuju pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif akan tetapi ditahun 2017 kembali melambat, maka harapannya ditahun 2018 benar-benar menjadi titik balik menuju PDRB inklusif, PDRB yang berkualitas bagi masyarakat. Tapi sekali lagi kami sampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak langsung mencerminkan kemakmuran suatu daerah, apalagi bila hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi sebagai indikator kemakmuran karena akan menyesatkan para pemegang kebijakan. Akan tetapi masih perlu diuji dengan indikator lainnya, seperti gini ratio, IPM, disparitas wilayah, Full Sequence Accounts (FSA), Tabel IO, dan lain-lain.

Tabel 4. Pertumbuhan Kategori Unggulan Tahun 2013 – 2017 (Persen)
Lapangan Usaha 2013 2014 2015 2016 2017
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
 Pertanian 0,42 2,05 2,02 1,72 0,66
 Industri 5,56 5,47 5,27 5,27 6,03
 Perdagangan 8,41 7,14 6,93 6,99 7,28
Total 5,93 5,42 5,36 5,40 5,36
Sumber:    PDRB Kabupaten Jombang, BPS

Grafik 4. b Kategori Unggulan di Kabupaten Jombang
Tahun 2013 – 2017 (Persen)

Sumber:    PDRB kabupaten Jombang, BPS

Kalau diperhatikan tabel di atas, bisa kita katakan bahwa kategori Pertanian seperti hampir kehabisan energi. Pertumbuhan yang terwujud demikian lambannya, cukup berbeda dengan kategori Indusrti apalagi kategori Perdagangan. Dan kami punya keyakinan, cepat atau lambat, share kategori Pertanian akan tergantikan perannya oleh kategori Industri. Akan tetapi, biarpun ada kecenderungan perannya tergeser, kategori Pertanian harus tetap mendapat perhatian. Bukan hanya karena produknya yang kita butuhkan tapi karena masih banyak atau bahkan mayoritas masyarakat kita yang menggantungkan kehidupannya dari kategori Pertanian.

Pembangunan pertanian berhubungan erat dengan ketahanan pangan. Dan ketahanan pangan berhubungan erat dengan ketahanan sosial. Control oil and you control the nations; control food and you control the people (Henry Kissinger, Politikus Amerika Serikat 1923). Apakah kita mau Indonesia merdeka, yang kaum Kapitalnya merajalela ataukah yang semua rakyatnya sejahtera, yang semua cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi yang cukup memberi sandang dan pangan? (Ir. Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia).