Kecamatan Ngusikan

Selamat Datang di website Kecamatan Ngusikan

 

GAMBARAN UMUM SKPD KECAMATAN NGUSIKAN

1.Aspek Fisik

A. Kondisi Geografis
Kecamatan Ngusikan adalah merupakan suatu wilayah Kecamatan baru yang ada di Kabupaten Jombang dan diresmikan oleh Bapak Bupati pada tanggal 21 Nopember 2001. Jarak ibukota kecamatan ke ibukota Kabupaten � 35 Km dengan melintasi sungai Brantas. Arah dari ibukota kabupaten adalah di sebelah Timur Laut merupakan daerah perbatasan dengan Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Lamongan. Kecamatan Ngusikan adalah salah satu wilayah dari Kabupaten Jombang dari 21 Kecamatan yang ada di Kabupaten Jombang. Sedangkan lokasi ibukota Kecamatan Ngusikan terletak di desa Ngusikan yang letaknya di pertengahan kecamatan tersebut, dengan luas wilayah seluruhnya adalah 34.707 Km2 Kecamatan Ngusikan terletak pada 05 0 20 � 01 � s/d 05 0 30 � 01 � Bujur Timur dan 07 0 20 � 01 � s/d 07 0 45 � 01� Lintang Selatan.
■ Adapun batas-batas Kecamatan Ngusikan adalah :

≈ Sebelah Timur : Kabupaten Mojokerto
≈ Sebelah Selatan : Kecamatan Kesamben
≈ Sebelah Barat : Kecamatan Kudu, Ploso, Kabuh
≈ Sebelah Utara : Kabupaten Lamongan
Bentuk batas-batas wilayah Kecamatan Ngusikan lebih banyak ditandai dengan batas-batas seperti sungai Brantas, hutan, dan jalan raya.

■ Secara administratif Kecamatan Ngusikan terdiri dari 11 desa, 36 dusun, 56 RW dan 164 RT. Sedangkan desa-desa tersebut adalah, sebagai berikut :
1.Desa Ngusikan
2.Desa Sumbernongko
3.Desa Ketapangkuning
4.Desa Keboan
5.Desa Kedungbogo
6.Desa Cupak
7.Desa Menunggal
8.Desa Ngampel
9.Desa Mojodanu
10.Desa Kromong
11.Desa Asemgede


B. Kondisi Topografis
Bilamana kita simak sepintas maka secara geografis Kecamatan Ngusikan mempunyai fisiologi mendatar atau merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata-rata  500 meter di atas permukaan air laut. 43% wilayahnya adalah daerah hutan yaitu : � 1.607 Ha meliputi desa Asemgede, Cupak, Kromong, sebagian Mojodanu, Ngampel, dan Sumbernongko yang merupakan daerah perbukitan atau berbukit-bukit dengan kemiringan 2-15 % sehingga cocok untuk tanaman hutan jati.


C. Kondisi Hidrologi
Sebagaimana dengan wilayah Indonesia pada umumnya, yang terletak di daerah tropis, maka di Kecamatan Ngusikan kita mengenal adanya dua kali pergantian musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Musim penghujan yang berkisar antara bulan Nopember s/d bulan April dan musim kemarau yang berkisar antara bulan Mei s/d Oktober, dimana waktu-waktu tertentu sering mengalami perubahan, yaitu maju dan mundur dari prakiraan cuaca yang diramalkan. Curah hujan yang ada di Kecamatan Ngusikan belum dapat di kemukakan secara pasti karena belum tersedianya peralatan yang memadai untuk mencatat melakukan penelitian tentang curah hujan tersebut. Mengenai air yang berada di waduk/tandon air yang berada di Desa Asemgede, Menunggal, Ngampel untuk menampung air hujan bisa dipergunakan petani s/d bulan Juni setiap tahunnya.


D. Kondisi dan Penggunaan Tanah Saat Ini
Jenis tanah di wilayah Kecamatan Ngusikan sesuai dengan lokasi adalah bervariasi dari jenis tanah padas, tanah liat hitam dan merah. Adapun tanah padas berada di sebagian wilayah utara yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan (batu pondasi). Jenis tanah liat hitam kebanyakan kita jumpai di daerah dataran rendah yang subur dan cocok untuk lahan pertanian namun memiliki sifat-sifat yang labil dan pada musim kemarau terdapat keretakan-keretakan, sedangkan pada musim penghujan tanah tersebut luluh dan sampai lengket. Hal ini terdapat di Desa Keboan, Ketapangkuning, Kedungbogo, Ngusikan, sebagian Sumbernongko, Manunggal dan Ngampel. Jenis tanah liat merah dapat dijumpai di tepi-tepi Sungai Brantas dan Marmoyo, yang cocok untuk dipergunakan sebagai bahan batu merah. Adapun luas tanah menurut penggunaannya adalah sebagai berikut : 
1). Pemukiman/Perumahan 16 % atau 603 Ha
2). Sawah 40 % atau 1.505 Ha
3). Tegalan 1 % atau 54 Ha
4). Hutan 43 % atau 1.607 Ha
5). Lainnya 0% atau 3 Ha
tempat/lokasi wisata religius berada di Desa Sumbernongko, Cupak, Kromong dan Mojodanu yang dimungkinkan banyak peninggalan purbakala/fosil-fosil bersejarah.


2.Aspek Demografi

A. Demografi / Kependudukan
Seperti halnya dengan kondisi geografis, maka keadaan demografi suatu wilayah juga merupakan suatu faktor yang amat menentukan dan penting serta perlu dipertimbangkan untuk dikembangkan dalam rangka mengisi pembangunan. Jumlah penduduk Kecamatan Ngusikan adalah 23.625 jiwa, terdiri dari laki-laki 11.786 jiwa dan perempuan 11.839 jiwa serta 7.084 kepala keluarga. Komposisi penduduk menurut umur adalah sebagai berikut :
● Umur 0-9 tahun : 3.159 jiwa
● Umur 10-19 tahun : 3.666 jiwa
● Umur 20-29 tahun : 4.129 jiwa
● Umur 30-39 tahun : 3.969 jiwa
● Umur 40-49 tahun : 3.675 jiwa
● Umur 50-59 tahun : 2.384 jiwa
● Umur 60 tahun keatas : 2.633 jiwa
Jumlah : 23.625 jiwa

Sedangkan komposisi penduduk menurut tingkat pendidikan formal adalah sebagai berikut :
● Tidak/Belum sekolah : 4.380 jiwa
● Tidak tamat SD/sederajat : 3.980 jiwa
● Tamat SD : 6.275 jiwa
● SLTP : 3.831 jiwa
● SLTA : 2.027 jiwa
● Diploma I/II : 68 jiwa
● Diploma III/sarjana muda : 34 jiwa
● Diploma IV/strata I : 127 jiwa
● Strata II : 6 jiwa

Apabila ditinjau dari segi pekerjaan/mata pencaharian penduduk adalah sebagai berikut :
● PNS / TNI/Polri : 198 orang
● Pegawai Perusahaan/Swasta : 364 orang
● Wiraswasta : 740 orang
● Petani Penggarap : 6.462 orang
● Peternak : 51 orang
● Bidang Jasa/tukang, dukun bayi, dll) : 1.222 orang
● Buruh tani : 3.842 orang
● Pengangkutan/transportasi : 145 orang
● Pedagang kecil / bakulan : 1.015 orang
● Pensiunan : 67 orang
● Lainnya : 859 orang


B. Keadaan Adat Istiadat/ Budaya 
Adat istiadat / budaya masyarakat Kecamatan Ngusikan adalah mencerminkan adat Jawa, yang masih melekatnya adat selamatan, sesajen dan percaya pada roh-roh ghaib, walaupun sebagian telah memudar karena kemajuan pengetahuan dan teknologi. Mengenai budaya dapat disebutkan bahwa banyak/kaya akan khasanah budaya baik budaya Jawa seperti tayub, ludruk campur sari, kuda lumping, budaya Islam seperti qasidah, hadrah, robbana maupun budaya modern seperti orkes dangdut.


C. Keadaan Sosial
1)Fasilitas Pendidikan
Pendidikan Pra Sekolah tetap memegang peranan yang penting baik yang diselenggarakan Sekolah maupun di lingkungan keluarga.
Upaya untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat khususnya untuk anak-anak diusahakan melalui :
○ Pendidikan Anak Usia Dini, terdapat 5 Play Group dimana 3 PAUD dikelola oleh PKK Desa (Ketapangkung, Kedungbogo, Ngampel) dan 2 PAUD dikelola oleh Muslimat NU (Ketapangkuning, Keboan).
○ Taman Kanak-Kanak, terdapat 11 TK/RA di beberapa desa yang dikelola oleh PKK. Depag dan Dharma Wanita.
○ Pendidikan Dasar, di mana telah terdapat 19 SDN / MI .
○ Pendidikan Sekolah Menengah Pertama yang meliputi SMPN, SMP Kosgoro, MTsN Bakalanrayung dan MTs Mojodanu.
○ Pendidikan Sekolah Tingkat Atas, yaitu MAN Keboan.
Disamping Pendidikan formal ada juga pendidikan non formal seperti Taman Pendidikan Al Qur�an (TPQ) yang hampir di setiap desa sudah ada. Sedangkan jumlah TPQ di Kecamatan Ngusikan sebanyak 58. 


2)Fasilitas Peribadatan
Kehidupan beragama di Kecamatan Ngusikan dapat berjalan dengan baik terbukti semakin banyaknya pemeluk agama di daerah ini dengan khusu�nya dan toleransi kehidupan mereka masing-masing. Sarana keagamaan meskipun belom memadai namun telah banyak terdapat di desa-desa, seperti Masjid, Langgar/Misholla serta rumah peribadatan yang lain. Agama yang terdapat di Kecamatan Ngusikan sebagian besar Agama Islam. 

Disamping itu terdapat beberapa Organisasi Keagamaan antara lain :
NU, Muhamadiyah, LDII/LEMKARI, MUI, Pagar Nusa, Fatayat NU, IPPNU, IPNU, Muslimat NU, Perguruan Ilmu Sejati, Yayasan Pendidikan Ulama Al Hidayah.


3)Fasilitas Kesehatan
Sektor kesehatan di Kecamatan Ngusikan mendapat prioritas utama dalam upaya meningkatkan taraf kesehatan masyarakat melalui Puskesmas. Meskipun belum mampu menyediakan Puskesmas yang lengkap, namun telah dikembangkan adanya rawat inap di Puskesmas Keboan dan telah ada tiga Puskesmas pembantu, yaitu di Desa Ngusikan, Ngampel dan Asemgede. Di samping itu telah digiatkan imunisasi, posyandu, pemberantasan penyakit menular, UPGK, UKS, GSI, BKB dan sebagainya. Setiap desa juga terdapat tenaga kesehatan ( Bidan Desa ). Dengan adanya beberapa kegiatan tersebut, diharapkan dapat diwujudkan tingkat kesehatan yang semakin baik, meskipun telah disadari masih terbatasnya tenaga personil dan prasarana yang ada. Jumlah staf/ Tenaga Medis, 


4)Sektor Keamanan
Kondisi keamanan di Kecamatan Ngusikan adalah cukup mantap dan sangat kondusif terbukti dari adanya tindak kriminalitas yang cukup rendah. Adapun gangguan keamanan yang bersifat kronis adalah pencurian kayu hutan, meskipun hanya bersifat kecil-kecilan. Aparat keamanan di samping dari instansi yang berkewajiban (jaga wana, polisi, TNI) dibantu oleh Polisi Pamong Praja dan masyarakat umum baik yang tergabung dalam wadah Hansip/Linmas maupun secara perorangan dalam bentuk siskamling / siskam swakarsa. Selanjutnya di Kecamatan Ngusikan belum terbentuk Koramil dan Polsek. Namun demikian telah ada Pos Polisi Sektor. 


5)Sektor Politik dan Pemerintahan
Secara umum kondisi politik di Kecamatan Ngusikan cukup mantap. Kondisi ini akan diupayakan melalui penyuluhan untuk membangkitkan rasa persatuan dan kesatuan nasional, kesadaran bernegara dan bermasyarakat dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Sebagai gambaran tentang sosial politik di Kecamatan Ngusikan maka terdapat pengurus Anak Cabang / Ranting Partai Politik sebagai berikut :
PNBK, PAN, Golkar, PDIP, PBB, PKB, PSI, PPP, PPNUI, PKPB, PNI Marhaen, Partai Demokrat.

Sedangkan di dalam melaksanakan tugas pemerintahan dan pembangunan serta kemasyarakatan di wilayah Kecamatan Ngusikan telah dilengkapi dengan Dinas / Instansi meskipun belum dimantapkan status kelembagaannya / masih dirangkap dengan kecamatan lain. 


E. Keadaan Utilitas
Hampir di setiap desa sudah dapat menikmati aliran listrik dari PLN. Namun demikian listrik belum dapat dimanfaatkan secara maksimal dan pada umumnya hanya untuk lampu penerangan dan untuk kebutuhan rumah tangga lainnya seperti TV, kulkas dan sebagainya. Sedangkan kebutuhan air/air minum telah tercukupi dari sumur gali dan sumur pompa. Untuk wilayah sebelah utara seperti Cupak, Kromong, Asemgede, air di samping dari sumber tersebut di atas mereka juga memanfaatkan sumber-sumber air dari pegunungan yang dialirkan melalui pipa-pipa paralon ke rumah-rumah warga. 

Mengenai fasilitas telepon hampir di wilayah sebelah Selatan seperti desa Keboan, Ketapangkuning, Kedungbogo, Ngusikan, Sumbernongko telah terdapat sambungan telepon dari PT Telkom dan hampir di setiap desa bisa di akses telepon seluler. Sebagian besar masyarakat telah memiliki kedua telepon tersebut. Untuk sanitasi / persampahan dapat dijelaskan bahwa masyarakat telah menyadari akan arti pentingnya kesehatan keluarga sehingga hampir di setiap rumah-rumah penduduk telah terdapat jamban keluarga, walaupun diakui masih ada sebagian masyarakat yang melaksanakan ke sungai di sekitarnya. Sedangkan untuk pembuangan sampah rumah tangga ada sebagian masyarakat yang membuangya ke sungai. 



3.Aspek Perekonomian

A. Keadaan Infrastruktur
Sebagian besar jalan-jalan di wilayah kecamatan Ngusikan sudah beraspal/paving/makadam. Namun jalan sepanjang 200 M menuju Desa Manunggal mengalami rusak berat. 


B. Fasilitas Perekonomian
Berikut ini diberikan gambaran berbagai sektor perekonomian yang disesuaikan dengan situasi Kecamatan Ngusikan yang diakibatkan dari bentuk wilayah, musim yang ada serta kondisi daerah setempat, sehingga mengakibatkan adanya berbagai jenis mata pencaharian dalam masyarakat guna menunjang roda perekonomian.

1)Fasilitas Perdagangan dan koperasi

Perdagangan di wilayah Kecamatan Ngusikan belum nampak aktivitasnya karena belum terdapatnya pasar dan pertokoan yang memadai. Dengan demikian di bidang perdagangan masih terdapat interdependensi dengan kecamatan lain, seperti misalnya dengan Kecamatan Kudu ( Pasar Tapen ). 
Di Kecamatan Ngusikan hanya ada dua pasar desa yaitu di desa Keboan dan Desa Ngusikan itupun aktivitasnya hanya sampai sekitar jam 10.00 WIB serta satu pasar hewan di desa Ngusikan. Untuk koperasi terdapat sebuah koperasi �Tani Sejahtera� yang baru terbentuk tahun 2002 hanya membidangi petani tebu dan 3 koperasi wanita masih dalam rintisan, yakni di Desa sumbernongko, Ngampel dan Keboan. Di Kecamatan Ngusikan hasil produksi penduduk Kecamatan Ngusikan dijual dan dilain pihak penduduknya mensuplai barang-barang konsumsi dari daerah lain.

2)Fasilitas Jasa

Fasilitas jasa yang dibentuk oleh pemerintah di Kecamatan Ngusikan belum begitu memadai, hanya terdapat satu unit BRI dan Perum Pegadaian. Terdapat juga 1 unit BPR Swasta. Sedangkan kantor Pos dan Giro masih menjadi satu dengan Kecamatan Kudu. Adapun warnet sebanyak 1 buah terdapat di wilayah Desa Ngusikan.



C. Keadaan Pertanian
Pada umumnya tanaman pangan berupa padi dan palawija, hasilnya di samping untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari juga dipasarkan di luar daerah. Adapun luas lahan areal pertanian menurut jenis pengairannya adalah sebagai berikut :
 Sawah pengairan teknis : 489,88 Ha
 Sawah pengairan 1/2 teknis : 227,68 Ha
 Sawah tadah hujan : 305,15 Ha
 Sawah sederhana : 174,67 Ha
 Sawah tadah hujan : 305,15 Ha
Jumlah : 1.197,38 Ha, 

Luas panen padi jumlah 1.086 Ha dengan produksi 8,924.85 ton dan rata-rata produksi 78 Kw/Ha. Jagung dengan luas panen bersih 1.512 Ha dengan hasil 12.059.2 ton dan rata � rata produksi mencapai 77 Kw/Ha. Sedangkan luas panen bayam dengan luas 42 Ha produksinya mencapai 14,330 ton dan rata-rata produksi 1.000 Kw/Ha, luas areal kacang tanah 15 Ha dengan produksi 36 ton dan rata-rata produksi sebesar 24 Kw/Ha. Luas panen kedelai 37 Ha dengan produksi 39,4 ton dan rata-rata produksi mencapai 21 Kw/Ha, dan luas areal kangkung 176 Ha dengan produksi 2,80 ton dan rata-rata produksi mencapai 90,05 Kw/Ha. Jenis tanaman tersebut hampir terdapat di setiap desa.


E.Keadaan Perkebunan dan Kehutanan
Penanaman jenis tanaman perkebunan diusahakan secara perorangan yang luasnya terbatas. Jenis tanaman perkebunan yang ada antara lain tebu, mangga, melinjo, tembakau, pandan. Sesuai dengan kondisi wilayah Kecamatan Ngusikan yang sebagian merupakan kawasan hutan, maka hutan di samping sebagai sumber devisa negara, juga memiliki fungsi sosial baik sebagai lapangan pekerjaan rakyat setempat, juga sebagai sumber penambah penghasilan pada saat tertentu bagi masyarakat di sekitar hutan. Hutan di daerah ini adalah milik negara sedangkan hutan rakyat baru dirintis pada tahun 2000 . Adapun luas hutan rakyat adalah 364Ha dan hutan milik negara sekarang ini banyak yang gundul. Sedangkan luas area perkebunan panen tembakau dengan luas 41 Ha produksinya mencapai 77.62 ton dan luas areal perkebunan tebu 495 Ha dengan hasil produksi 3.245 ton.


F. Keadaan Perikanan dan Peternakan
Sedangkan potensi petani peternak adalah cukup baik, terbukti di setiap kepala keluarga/rumah memiliki ternak baik besar maupun kecil, hanya pengelolaan secara intensif belum dapat dikembangkan dan dilaksanakan oleh masyarakat setempat. Jenis ternak di antaranya sapi/lembu, kambing, domba, ayam kampung, ayam potong dan petelur. Populasi ternak sapi potong sebanyak 1.910 ekor, kerbau sebanyak 21 ekor, kambing sebanyak 1.020 ekor, domba sebanyak 1.120 ekor terdapat hampir di setiap desa. Sedangkan ayam potong sebanyak 188.750 ekor berada di desa Keboan, Ketapangkuning, Sumbernongko, Manunggal, Ngampel dan Mojodanu. Ayam buras sebanyak 38.648 ekor, entok sebanyak 887 ekor dan itik sebanyak 421 ekor terdapat hampir di setiap desa. Adapun sektor perikanan belum begitu populer dan hanya di usahakan oleh beberapa orang dan sebagai sambilan kegiatan keluarga meliputi budidaya lele dan mujair.


G.Kondisi Produk Unggulan dan Sektor Industri / Home Industri
Industri rumah tangga oleh penduduk belum banyak dikelola, namun sedikit demi sedikit telah ada yang merintisnya dan kebanyakan kekurangan dalam hal modal. Jenis industri rumah tangga antara lain batu merah, tikar, Pandai besi, tempayan dan Industri makanan dengan jumlah 207 home industri, hasilnya masih bersifat lokal dan mutunya masih perlu ditingkatkan. Mengenai produk unggulan yang ada di Kecamatan Ngusikan adalah produk home industri anyaman tikar yang terdapat di desa Cupak, Ngampel, Kromong dan Asemgede, pande besi di desa Ketapangkuning, makanan ringan berupa krupuk ladu di desa Ngampel dan kue banjar di desa Keboan dan Sumbernongko.