Kecamatan Kesamben

Selamat Datang di website Kecamatan Kesamben

 

1. Lokasi, Tanah dan Iklim

1.1. Lokasi
Kecamatan Kesamben mempunyai letak yang sangat strategis, kerena berada pada bagian selatan aliran Sungai Brantas dan berada pada bagian Timur dekat dengan Kabupaten Mojokerto sebagai pusat perekonomian. Disebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Peterongan dan Sumobito, sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Tembelang, sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Kudu, dan sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Mojokerto.
Secara geografis Kecamatan Kesamben terletak disebelah selatan garis katulistiwa berada antara 1120 20’01” sampai 1120 30’01” Bujur Timur dan 7024’01” sampai 7045’01” Lintang Selatan, dengan luas wilayah 51,72 Km2. Ibu Kota Kecamatan Kesamben terletak pada ketinggian 20 m diatas permukaan laut.
Secara topografis, Kecamatan Kesamben dibagi menjadi 2 ( dua ) sub area, yaitu :
a. Kawasan Barat Ibu Kota Kecamatan yang terdiri dari 7 Desa yaitu : Desa Podoroto, Jombatan, Kedungbetik, Pojokkulon, Gumulan, Jatiduwur dan Kedungmlati yang lebih banyak didominasi tanaman Padi dan palawija.
b. Kawasan Timur Ibu Kota Kecamatan yang terdiri dari 7 Desa, yaitu : Desa Kesamben, Watudakon, Pojokrejo,Wuluh,Blimbing, Jombok dan Carangrejo yang lebih banyak didominasi tanaman tebu.
Perbedaan tersebut disebabkan karena adanya ketersediaan air pengairan yang mengandalkan dari Waduk Mrican Kanan di Kediri sejak tahun 1985 dengan jarak tempuh 70 Km yang hanya mampu mengairi areal pertanian Tanaman Pangan khususnya Padi pada 7 desa bagian barat.
1.2. Tanah
Faktor penting yang sangat mempengaruhi tingkat kesuburan tanah di Kecamatan Kesamben, diantaranya adalah aliran sungai Sekunder melik dan sentul yang membawa material hasil letusan gunung berapi dari daerah hulu kehilir pada saat bersamaan dengan musim hujan pada bulan Nopember ,Desember dan Januari.
Penggunaan tanah di Kecamatan Kesamben didominasi oleh tanah sawah yang mencapai 80 % dari luas wilayah, kemudian pemukiman/perumahan 15 %, tegal 3 % dan penggunaan lainnya 2 %.
1.3. Keadaan Cuaca dan Iklim
Jumlah hari dengan curah hujan yang terbanyak di wilayah Kecamatan Kesamben pada bulan Januari s/d Desember 2009 adalah 80 hari dengan banyaknya curah hujan 1.995 mm/tahun berdasarkan pengukuran di Pos pengukuran hujan UPT Pengairan dan pos pantau didesa Kedungbetik. 


2. Pemerintahan Kecamatan
Secara administrasi Kecamatan Kesamben terbagi menjadi 14 desa,62 dusun, 468 RT dan 123 RW. Ditinjau dari komposisi jumlah dusun, Desa Kedungbetik memiliki 7 Dusunterbanyak , namun bila ditinjau dari luas wilayah,terdapat 3 desa yang memiliki wilayah terluas, yaitu Desa Jombok dengan luas 6 Km2 , Jombatan dengan luas 5,10 Km 2 dan Podoroto dengan luas 4,70 Km2 
Pada tahun 2009 ini jumlah aparatur pemerintah ( CPNS/PNS) di Kecamatan Kesamben sebesar 24 orang, sebagian besar mempunyai pendidikan S-1 8 orang , S2 1 orang, tingkat SLTA sederajat 14 orang , dan 2 orang berijasah SLTP.
Sedangkan anggota Legeslatif diwilayah Kecamatan Kesamben ada 3 orang yang semuanya berjenis kelamin laki-laki dan berpendidikan SLTA dan Sarjana.

3. Penduduk dan Tenaga Kerja
Dalam paradigm baru, tujuan pembangunan Nasional adalah mencapai masyarakat madani, yaitu yang maju, modern dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dari paradigm baru tersebut tergambar bahwa penduduk merupakan obyek sekaligus subyek dari pembangunan. Sehingga data penduduk menjadi sangat penting guna mengetahui profil penduduk disuatu wilayah dengan berbagai masalah social yang ditimbulkan. Berdasarkan hasil Registrasi jumlah penduduk Kecamatan Kesamben akhir tahun 2009 sebesar 65.224 jiwa, terjadi kenaikan 2.298 jiwa atau 0,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 62.926 jiwa. Dari 14 desa di Kecamatan Kesamben, desa Podoroto mempunyai jumlah penduduk terbesar, yaitu 6.884 jiwa atau 10,19 persen dari total penduduk Kecamatan Kesamben. Kepadatan penduduk Kecamatan Kesamben sedikit meningkat dari 490 jiwa/km2 pada tahun 2008 menjadi 500 jiwa/km2 pada tahun 2009. Kepadatan penduduk tertinggi berada didesa Podoroto yang berada 2 km dari Ibu Kota Kecamatan dan kepadatan terendah berada didesa Jatiduwur dan Gumulan. Sex rasio yang merupakan perbandingan jumlah penduduk laki-laki terhadap penduduk perempuan dikalikan seratus, menunjukkan sex rasio penduduk Kecamatan Kesamben tahun 2009 adalah 96,61 artinya setiap 100 penduduk perempuan terdapat 97 penduduk laki-laki. Registrasi pada akhir 2009, penduduk Kecamatan Kesamben semuanya warga Negara Indonesia.